Info Grrr…!!

SeNsAsI 2007, YaMaHa ViPeR 150 !!!

 

Memang bukan Yamaha kalau tidak membuat sensasi. Tahun lalu MX 150 sudah membuktikan dirinya dengan penjualan yang tidak hanya laris manis, namun juga teknologi yang mumpuni. Dan, satu lagi yang paling penting, kepuasan pelanggan yang bisa terlihat dari ribuan testimoni mereka secara lisan maupun tulisan. Tak heran jika penjualan total Yamaha tahun lalu semakin menempel Honda selaku market leader, sekaligus meninggalkan Suzuki hampir dua kali lipat.

 

Lalu datang Viper 150 yang heboh itu. Viper? What’s that!!? The namesake has intimate meaning to its predecessor, The King (Cobra). So it would prove two things. Pertama, Yamaha ingin membuktikan bahwa produk ini akan sama legendarisnya dengan pendahulunya, RX King (Cobra). Legendaris baik dari sisi penjualan, lamanya bertahan (30-an tahun), dan juga ketangguhannya sebagai raja jalanan, bahkan hingga kini. Namanya saja sama seramnya. Kobra adalah raja ular

di dunia Timur, berbisa dan mematikan. Viper ular paling berbisa di kawasan Amerika, bisa jadi keluarga Kobra itu sendiri.

 

Kedua, produk ini bukanlah revolusi yang nyaris creatio ex nihillo-nya Jupiter MX, tapi merupakan evolusi dan juga kombinasi berbagai produk yang telah lahir sebelumnya. Tak percaya? Bisa kita reka-reka dua aspek yang selalu menjadi perhatian Yamaha, desain dan teknologi, nantinya.

 

Pengakuan para petinggi Yamaha terhadap MX sebagai produk yang sama sekali baru Mungkin tak bisa berulang pada Viper. Mengapa demikian? Investasi membuat motor laki (sport) tidaklah sebanding dengan motor jenis bebek. Bukan saja karena setiap komponen dan total produksi setiap motor laki sangat mahal, tapi juga pasar motor sport tanah air (dan juga seluruh Asia) sangat-teramat kecil dibanding motor-motor bebek. Mungkin cuma Honda Tiger yang menyumbang angka

penjualan lumayan untuk segmen ini, namun tidak Scorpio (Yamaha),Thunder (Suzuki), apalagi Ninja (Kawasaki). Jadi hampir tak ada motor sport yang murah dari sisi produksi, yang laris di pasar, dan murah dari segi harga.

 

Di sisi yang lain, Yamaha berpengalaman dengan MX yang begitu populer saat ini. Penjualannya yang luar biasa membuat break even point (balik modal) Yamaha bisa sangat cepat. Apalagi ongkos produksi MX bisa pula ditekan dengan menjadikannya produk Pan-Asean. Ya, MX memang diproduksi dan dijual untuk seluruh negara-negara Asean. Mungkin baru kali itulah ada suatu kerjasama regional yang begitu menguntungkan Yamaha selaku produsen ditilik dari sisi cost production.

 

Lalu apa langkah yang bisa mencegah investasi yang terlalu mahal? Sintesa. Ya, Yamaha harus bisa mengkombinasikan beberapa unsur pengembangan teknologi dan komponen dari produk-produk sebelumnya menjadi sebuah produk baru dan tak kalah bagusnya. Mari kita bedah 4 aspek berikut.

 

 

 

MESIN

 

Yamaha tidak bodoh. Saat ini ia sudah memiliki mesin yang paling powerful di kelasnya. Jupiter MX 135 bukan saja kokoh dan manis, tapi juga memiliki dimensi yang lumayan besar. Lagi pula mesin-mesin Yamaha terkenal bandel, maka MX pun pastinya demikian. Dengan basis mesin ini, Yamaha tinggal memainkan bore dan stroke, angka 150 cc bisa didapat dengan mudah.

 

Penerapan teknologi DiASil Cylinder dan forged piston membuat mesin ini memiliki daya tahan yang luar biasa terhadap putaran mesin yang tinggi seperti lazimnya motor-motor sport tulen. Kedua komponen itu sendiri dibuat secara ekslusif dari alumnium oleh teknologi terkini Yamaha berupa campuran 20% silicon aluminum alloy.

 

Jika benar basis mesin MX yang dipakai, Yamaha tinggal memodifikasi sedikit pada rumah koplingnya guna menyalurkan tenaga secara lebih maksimal dan mengimbangi naiknya volume mesin dan tenaga. Sudah menjadi tradisi motor 4 tak Yamaha menggunakan dimensi rumah kopling yang lumayan besar seperti digunakan mesin Scorpio maupun MX. Tak lupa pula water cooler yang sudah satu paket dengan mesin MX akan ikut mendinginkan mesin Viper.

 

SASIS

 

Menciptakan motor dengan stabilitas yang tinggi sekaligus menjamin kenyamanan berkendara bukanlah hal yang mudah. Dan jika Yamaha berlama-lama mencari desain

baru, akan menguras waktu dan dana yang luarbiasa. Karena itu tidak seperti MX yang sasis diamond cut-nya diakui para desainer Yamaha sebagai kreasi baru yang mengharmonikan kekokohan dan bobot yang ringan, Viper harus mencari dari produk yang tersedia. Yamaha punya 3 pilihan yang memiliki basis yang sama. Mereka memiliki TZR 150, TZM 150, atau TZR 50. Semuanya dengan mesin bawaan 4 tak dengan deltabox sebagai pengikatnya.

 

Pada dasarnya ketiganya memiliki dimensi yang hampir sama, atau malah mungkin sama-sebab saya belum sempat membandingkan secara langsung. Namun bukan hal yang sulit bagi Yamaha untuk menempelkan mesin MX ke sasis berbentuk deltabox tersebut. Faktor utama karena MX sendiri sebenarnya memiliki center backbone yang menyerupai deltabox di bagian belakang mesin. Apalagi bagian itu mirip benar dengan desain deltabox seri Yamaha TZ di atas. Di samping itu kebiasaan pabrikan Jepang untuk menciptakan mesin dengan sejumlah titik mounting (4 hingga 6 bagian) yang bisa saja menggunakan berbagai macam jenis sasis (turbular, diamond, backbone, dst), semakin mempermudah montase mesin.

 

Satu hal lagi yang tak bisa dilupakan, bobot mesin yang hampir mirip milik MX dipadu dengan deltabox Yamaha TZ tidak akan menciptakan labilitas dan getaran yang tak perlu pada motor secara keseluruhan. Apalagi memperhatikan bocoran spesifikasi yang banyak beredar tentang bobot total Viper yang hanya sekitar 90 kg, maka bisa jadi sasis yang dipilih adalah TZR 50 yang banyak dipasarkan di Eropa. Kalaupun tidak sama persis, itu karena lagi-lagi sasis Viper adalah penyederhanaan TZR yang lebih rumit dan tentu lebih mahal itu. Lalu bagaimana dengan sektor kaki-kaki?

 

KAKI-KAKI

 

Karena ini versi specdown, bisa saja Yamaha mencari basis produksi kaki-kaki yang paling murah. Mari kita lupakan V-Ixion yang ber-upsidedown itu. Mirip dengan penggunaan sasis TZR 50, Viper pun mungkin bakal menyandang hampir semua komponen kaki-kaki dari motor yang sama. Dimulai dengan sok depan, swing arm, hingga velg (Velg bisa juga mencomot milik MX, akan dibahas di bawah).

 

Bedanya, sok depan Viper tidak perlu lagi menggunakan pemantul cahaya karena ini bukan Eropa dan Viper jelas bukan motor untuk pemula. Juga tak ada variasi (penggede arm) pada swing arm, karena akan menambah ongkos produksi dan gaya ini cuma lazim di Eropa. (Ingat NSR 125 Hornet keluaran Honda Italia yang menggunakan variasi serupa). Juga tak ada lagi doble cakram pada velg Viper karena roda belakang masih menganut model tromol untuk menahan laju. Versi V-Ixion memang menunjukkan digunakannya velg TZR 50, tapi pada snapshot di atas

sepertinya Viper hanya dibelai Velg MX. Lagi-lagi untuk menekan ongkos

produksi, atau minimal sebagai salah satu strategi pemasaran. Sebab bisa saja 2 tahun lagi akan menggunakan doble cakram jika persaingan dengan merek lain semakin tajam.

 

Dengan mencomot sasis dan kaki-kaki dari motor sejenis, bisa dijamin tingkat stabilitas yang luar biasa. Sebab produk ini sudah seirama dan bahkan teruji di Eropa yang menerapkan standar keamanan 2 tingkat di atas yang diterapkan di Asia. Jika demikian halnya PR Yamaha tinggal satu. Desain bodi.

 

BODI

 

Mungkin salah satu bagian paling menantang bagi setiap produk baru adalah kemasannya. Dan kemasan motor banyak terlihat pada tampilan bodinya. Itulah yang selalu menjadi perhatian pertama konsumen. Dalam hal ini, Honda sangat pintar memainkan “baju” motor-motornya yang bisa dilihat pada motor Tiger, Megapro, maupun produk-produk bebeknya yang hampir saban tahun ganti baju.

 

Yamaha harus memutar otak. Sebab bukan hal mudah membuat baju baru. Juga bukan hal gampang memasang baju lama. Berbeda dengan kaki-kaki dan sasis yang gampang tersamar, penggunaan desain bodi yang sama dengan gampang dikenali.

 

Dari snapshot yang bisa dilihat desain Viper sebenarnya masih terinspirasi cetakan TZR 50. Hanya saja dibuat lebih simpel. Lekak-lekuk tangki dan bodi samping-belakang TZR 50 tidak lagi dimunculkan. Dibuat bagian yang lebih bulak sehingga jauh dari kesan TZR yang justru terinspirasi desain bodi R1. Lalu fairing pun ikut dicopot sehingga kemiripannya semakin hilang. Lagi pula untuk Indonesia, motor tanpa fairing begitu populer. Bukan saja untuk menekan harga, juga karena transportasi di kota-kota besar sangat rsikan untuk motor

“bersayap”. Tinggal copot fairing dan pasang lampu bulat. Biar lebih murah, model lampu V-Ixion yang terinspirasi FZ1000/600 pun menyingkir.

 

Bisa disimpulkan sekarang bahwa Viper yang hadir saat ini merupakan perpaduan dua motor Yamaha yang sudah terlebih dahulu hadir. TZR 150 untuk Eropa dan MX

untuk Asia. Seperti setiap perkawinan, bayi yang akan lahir bisa merupakan bibit ungul. Sangat bergantung pada ibu-bapaknya, dan kesungguhan mereka membuatnya.

 

Apa benar Viper seperti rekaan di atas. Ya kalaupun meleset, setidaknya itulah produk motor sport Yamaha yang sebaiknya hadir untuk pasar Indonesia. Semoga menjadi bahan khayalan sembari menunggu The New King Viper turun ke bumi

Spesifikasi Viper (Tentatif):

Type : air cooled 4 stroke SOHC
Bore X Stroke : 54 X 54
Transmission : Constant mess 5 speed
Front suspension : telescopic Fork
Rear Suspension : Swing Arm
Front Brake : Hidrolik single disc brake
Rear Brake : Drum Brake
Front tire : 70/100-19 42M
Rear Tire : 90/100-16 52M
Over all dimension : 1885 mm X 795 mm x 1085 mm
Seat Height : 805 mm
Wheel base : 1270 mm
Minimum Ground Clerance : 295 mm
Fuel capacity : 6.6 Gallons
Dry Weight : 84 Kg


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: